TRENGGALEK, Lumineerdaily.com – Menjelang peringatan Hari Jadi ke-832, Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengajak jajaran pemerintah daerah mengenang orang-orang yang pernah berperan dalam perjalanan daerah tersebut.
Sabtu (28/8/2026), Nur Arifin bersama Ketua DPRD Trenggalek Doding Rahmadi dan jajaran Forkopimda mendatangi sejumlah kompleks pemakaman tokoh Trenggalek.
Bagi pemerintah daerah, kegiatan itu menjadi bagian dari tradisi menjelang Hari Jadi Trenggalek yang diperingati setiap 31 Agustus. Makam para pendahulu didatangi, doa dipanjatkan, sekaligus menjadi pengingat bahwa daerah yang kini berkembang dibangun melalui perjalanan panjang.
“Jadi setiap jelang peringatan hari jadi, kami ziarah ke makam leluhur. Kami tak lupa dengan jasa para leluhur yang mengikuti perjalanan Trenggalek dari masa ke masa,” kata Nur Arifin.
Salah satu makam yang didatangi adalah Menak Sopal di Kompleks Makam Bagongan, Kelurahan Ngantru. Sosok Menak Sopal dikenal dalam sejarah Trenggalek, salah satunya berkaitan dengan pembangunan Dam Bagong yang hingga kini masih memiliki peran bagi sektor pertanian.
Rombongan kemudian menuju Makam Setono Galek, tempat Mbah Kawak dimakamkan. Tokoh tersebut dikenal dalam sejarah penyebaran Islam di Trenggalek.
Dari sana, rombongan melanjutkan perjalanan ke Makam Setono Gedong. Di tempat tersebut terdapat makam sejumlah tokoh, termasuk Raden Doemotaroeno yang tercatat sebagai Bupati Trenggalek pertama.
Ziarah juga dilakukan ke Kompleks Makam Margo Ayu di Desa Ngulan Kulon, Kecamatan Pogalan. Di sana terdapat makam Kanjeng Jimat atau Mangun Negoro.
Perjalanan dilanjutkan ke Makam Girilaya Kamulyan di Desa Kamulan, Kecamatan Durenan, kemudian berakhir di Makam Girimulyo, Desa Sumber, Kecamatan Karangan.
Di kompleks pemakaman terakhir tersebut terdapat makam Adipati Widjoyo Kusumo, Bupati Trenggalek yang memimpin pada 1894 hingga 1904.
Nur Arifin mengatakan, memasuki usia 832 tahun bukan berarti perjalanan Trenggalek berhenti pada pencapaian masa lalu. Pemerintah daerah masih menghadapi pekerjaan yang harus diselesaikan, terutama dalam menjaga pembangunan di tengah kebijakan efisiensi.
Menurutnya, pemerintah tetap mencari ruang agar pembangunan daerah tidak berhenti. Salah satu yang terus didorong adalah peningkatan pendapatan asli daerah (PAD).
“Di usia 832 tahun, Trenggalek terus berbenah dan dari tahun ke tahun terus menunjukkan tren positif,” ujarnya.
Ia menyebut kondisi anggaran yang terbatas membuat pemerintah harus lebih cermat menentukan langkah. Potensi pendapatan daerah menjadi salah satu bagian yang terus digarap agar program pembangunan tetap dapat berjalan.
Ziarah ke makam para pendahulu akhirnya menjadi bagian dari rangkaian menuju Hari Jadi ke-832 Trenggalek. Tradisi tersebut mempertemukan dua hal sekaligus: mengenang perjalanan yang telah dilalui dan menyiapkan langkah untuk menghadapi persoalan yang masih ada.
Puncak peringatan Hari Jadi Trenggalek dijadwalkan berlangsung pada 31 Agustus 2026.
(gUN)













