Ancaman El Nino 2026 Menguat, Dinas Pertanian Trenggalek Antisipasi Krisis Air dan Risiko Gagal Panen

- Pewarta

Rabu, 6 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Kepala Dinas Pertanian Trenggalek. (Pemerintah daerah menyiapkan mitigasi menghadapi potensi kemarau panjang dan risiko kekeringan pada 2026)

Foto : Kepala Dinas Pertanian Trenggalek. (Pemerintah daerah menyiapkan mitigasi menghadapi potensi kemarau panjang dan risiko kekeringan pada 2026)

TRENGGALEK – Pemerintah Kabupaten Trenggalek mulai menyiapkan langkah antisipasi menghadapi potensi musim kemarau panjang pada 2026. Ancaman cuaca kering berkepanjangan diperkirakan dapat memicu krisis air di sejumlah wilayah pertanian serta meningkatkan risiko penurunan produksi pangan.

Sektor pertanian menjadi perhatian utama mengingat sebagian wilayah Trenggalek masih bergantung pada pola tanam yang sensitif terhadap perubahan iklim, terutama pada lahan tadah hujan.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Trenggalek, Imam Nurhadi, mengatakan pemerintah daerah telah menerima informasi peringatan terkait potensi kemarau panjang yang diperkirakan mencapai puncak pada Agustus hingga September 2026.

“Kami mendapat informasi terkait potensi kemarau panjang pada tahun ini dengan puncak sekitar Agustus hingga September, sehingga persiapan harus dilakukan lebih awal,” ujar Imam Nurhadi, Senin (4/5/2026).

Menurutnya, ancaman utama dari musim kemarau berkepanjangan bukan hanya berkurangnya curah hujan, tetapi juga potensi menurunnya ketersediaan air untuk pertanian.

Jika tidak diantisipasi, kondisi tersebut dapat berdampak pada pola tanam petani, produktivitas lahan, hingga risiko gagal panen pada wilayah rawan kekeringan.

Untuk mengurangi risiko tersebut, Dinas Pertanian menyiapkan sejumlah strategi penguatan infrastruktur air.

Langkah yang disiapkan meliputi pembangunan sumur dalam dan dangkal, pemanfaatan aliran sungai melalui sistem pipanisasi, optimalisasi sumber mata air dengan sistem gravitasi, hingga pengembangan irigasi perpompaan.

“Fokus kami memastikan kebutuhan air tanaman tetap terpenuhi. Karena itu, kami siapkan berbagai alternatif sumber air, termasuk irigasi perpompaan untuk mendukung pertanian saat kemarau panjang,” katanya.

Selain penguatan infrastruktur, pemerintah juga mendorong petani menyesuaikan pola tanam berdasarkan karakteristik lahan dan potensi risiko cuaca.

Pada lahan kering atau tadah hujan, petani diarahkan mempertimbangkan komoditas yang lebih adaptif terhadap keterbatasan air, salah satunya ubi jalar.

Langkah adaptasi tersebut dinilai penting untuk menjaga kesinambungan produksi di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin tidak menentu.

Dinas Pertanian juga telah melakukan pemetaan wilayah berdasarkan tingkat kerawanan kekeringan. Area yang masuk kategori prioritas akan mendapatkan perhatian lebih intensif dalam penanganan dan distribusi dukungan infrastruktur air.

Trenggalek dalam dua tahun terakhir mencatat peningkatan Indeks Pertanaman (IP), dari 1,9 pada 2024 menjadi 2,4 pada 2025. Capaian tersebut disebut sebagai hasil optimalisasi irigasi dan peningkatan intensitas tanam.

Pemerintah daerah berharap tren tersebut dapat dipertahankan meski menghadapi ancaman musim kering tahun ini.

“Harapannya indeks pertanaman tidak turun signifikan dan produktivitas pertanian tetap terjaga,” ujar Imam.

Ancaman kemarau panjang pada 2026 menjadi tantangan bagi banyak daerah agraris. Bagi Trenggalek, kesiapan menjaga ketersediaan air dipandang sebagai kunci untuk mempertahankan ketahanan pangan sekaligus melindungi pendapatan petani.

Di tengah meningkatnya ketidakpastian iklim, strategi mitigasi yang dilakukan lebih awal dinilai menjadi langkah penting agar dampak cuaca ekstrem dapat ditekan.

(gun)

Berita Terkait

Jalan Rusak Belum Tertangani, APBD Trenggalek 2027 Justru Siapkan Belanja Kendaraan Dinas, Laptop, dan Komputer Rp32 Miliar
Bayi Laki-laki Ditemukan Terlantar di Teras Rumah Warga Trenggalek, Polisi Selidiki Pelakunya
Realisasi PAD Diskomidag Trenggalek Baru 29,5 Persen, Wajib Retribusi Diimbau Segera Melunasi Tunggakan
DPRD Trenggalek Dorong Gedung Rawat Inap Jiwa RSUD Soedomo Segera Dibangun
DPC Ormas 212 Trenggalek Resmi Dikukuhkan, Fokus Perkuat Peran Sosial di Tengah Masyarakat
Warga Patungan Beli Tanah Sekolah, Pemkab Trenggalek Kemana? Tanah SDN 1 Sengon Jadi Tanda Tanya Besar
VIRAL! DUGAAN BISNIS LKS DI MIN 1 TRENGGALEK, PLT KEPALA MTSN BELUM BERI KLARIFIKASI
Kasus DBD Menurun, Dinkes Trenggalek Minta Warga Tidak Abaikan Pencegahan

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 15:37 WIB

Jalan Rusak Belum Tertangani, APBD Trenggalek 2027 Justru Siapkan Belanja Kendaraan Dinas, Laptop, dan Komputer Rp32 Miliar

Minggu, 26 Juli 2026 - 13:07 WIB

Bayi Laki-laki Ditemukan Terlantar di Teras Rumah Warga Trenggalek, Polisi Selidiki Pelakunya

Jumat, 24 Juli 2026 - 16:25 WIB

Realisasi PAD Diskomidag Trenggalek Baru 29,5 Persen, Wajib Retribusi Diimbau Segera Melunasi Tunggakan

Rabu, 22 Juli 2026 - 23:34 WIB

DPRD Trenggalek Dorong Gedung Rawat Inap Jiwa RSUD Soedomo Segera Dibangun

Rabu, 22 Juli 2026 - 01:26 WIB

DPC Ormas 212 Trenggalek Resmi Dikukuhkan, Fokus Perkuat Peran Sosial di Tengah Masyarakat

Sabtu, 18 Juli 2026 - 23:33 WIB

Warga Patungan Beli Tanah Sekolah, Pemkab Trenggalek Kemana? Tanah SDN 1 Sengon Jadi Tanda Tanya Besar

Jumat, 17 Juli 2026 - 20:59 WIB

VIRAL! DUGAAN BISNIS LKS DI MIN 1 TRENGGALEK, PLT KEPALA MTSN BELUM BERI KLARIFIKASI

Kamis, 16 Juli 2026 - 12:57 WIB

Kasus DBD Menurun, Dinkes Trenggalek Minta Warga Tidak Abaikan Pencegahan

Berita Terbaru