Bupati Arifin Resmikan Living Laboratory di Kili-Kili, Konservasi Penyu Diperluas Jadi Pusat Studi Pesisir

- Pewarta

Jumat, 21 Agustus 2026 - 16:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TRENGGALEK, LUMINEERDAILY.COM – Pantai Konservasi Penyu Kili-Kili di Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, Trenggalek, kini dikembangkan bukan hanya sebagai kawasan perlindungan penyu. Bersama Universitas Brawijaya, kawasan tersebut diarahkan menjadi Living Laboratory atau laboratorium alam untuk mempelajari sekaligus menjaga keanekaragaman hayati pesisir.

Pengembangan tersebut ditandai dengan peresmian Living Laboratory oleh Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin bersama Rektor Universitas Brawijaya Profesor Widodo, Jumat (20/8/2026).

Kerja sama ini bukan dimulai dari nol. Universitas Brawijaya telah melakukan pendampingan konservasi penyu di Kili-Kili sejak 2020 bersama kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas) setempat. Kehadiran Living Laboratory menjadi langkah untuk memperluas kegiatan dari konservasi penyu menuju penelitian ekosistem pesisir secara lebih menyeluruh.

Rektor Universitas Brawijaya Profesor Widodo mengatakan, aktivitas yang selama ini telah berjalan akan terus dikembangkan melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan.

“Living Laboratory ini khususnya untuk keanekaragaman hayati pesisir,” kata Widodo.

Menurut dia, objek kajian tidak hanya penyu. Ekosistem pesisir juga menyimpan berbagai potensi lain yang dapat dipelajari, mulai dari mikroorganisme hingga tanaman dan produk hayati yang tumbuh di kawasan pesisir Trenggalek.

Pengembangan laboratorium alam tersebut memiliki dua tujuan utama. Selain mendorong pengembangan ilmu pengetahuan, Universitas Brawijaya ingin memperkuat dukungan terhadap upaya masyarakat dan pemerintah daerah dalam menjaga lingkungan.

Widodo menilai kepedulian masyarakat Trenggalek terhadap kelestarian alam merupakan modal penting untuk membangun kerja sama konservasi yang berkelanjutan.

Menurut dia, upaya menjaga keanekaragaman hayati juga berkaitan dengan tanggung jawab masyarakat sebagai bagian dari komunitas global dalam menghadapi perubahan iklim dan kerusakan lingkungan.

Dari Konservasi Penyu Menuju Ekosistem Pesisir

Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin menyambut pengembangan Living Laboratory tersebut. Ia menyebut kerja sama dengan Universitas Brawijaya telah berlangsung dalam waktu panjang dan terus berkembang.

Arifin menyampaikan apresiasi kepada Universitas Brawijaya yang telah mendampingi upaya konservasi di kawasan tersebut sejak bertahun-tahun lalu. Menurut dia, kegiatan yang kini diresmikan sebenarnya merupakan kelanjutan dari aktivitas yang telah berjalan dan berkembang bersama masyarakat.

“Kalau ini kegiatannya puluhan tahun tapi baru mau diresmikan, artinya ini hanya mengakui apa yang sudah kita lakukan,” ujar Arifin.

Bagi pemerintah daerah, pengembangan konservasi berbasis sains menjadi penting karena pengelolaan kawasan tidak cukup hanya mengandalkan kepedulian masyarakat. Data dan penelitian diperlukan untuk membantu menentukan kebijakan serta tata kelola kawasan secara lebih tepat.

Arifin juga mengaitkan perkembangan konservasi dengan meningkatnya perhatian dunia usaha terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance atau ESG. Menurut dia, kondisi tersebut membuka peluang keterlibatan perusahaan dalam mendukung kegiatan konservasi melalui program tanggung jawab sosial perusahaan.

Jika dukungan pendanaan dari dunia usaha dapat dipadukan dengan kajian ilmiah dari perguruan tinggi dan kebijakan pemerintah daerah, pengelolaan kawasan konservasi dapat dilakukan secara lebih terarah.

Kawasan Kili-Kili sendiri memiliki posisi penting dalam pengelolaan ekosistem pesisir Trenggalek. Pemerintah daerah juga terus mendorong penguatan regulasi, termasuk tata kelola kawasan serta berbagai kebutuhan perizinan yang berkaitan dengan pemanfaatan kawasan hutan.

Pokmaswas setempat diharapkan tetap menjadi bagian penting dalam pengawasan dan pengelolaan kawasan tersebut.

Arifin berharap konsep Living Laboratory tidak berhenti pada seremoni peresmian. Sebaliknya, aktivitas penelitian, konservasi, pendidikan lingkungan dan keterlibatan masyarakat harus terus berjalan.

“Namanya Living Laboratory berarti harus hidup terus-menerus. Tidak hanya hari ini ketika diresmikan,” katanya.

Penyu Dilepas Kembali ke Laut

Setelah peresmian, Bupati Trenggalek bersama Rektor Universitas Brawijaya melepas penyu hasil konservasi ke kawasan pantai Kili-Kili.

Pelepasan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan sekaligus menunjukkan bahwa konservasi yang dilakukan di kawasan tersebut tetap berorientasi pada keberlangsungan satwa dan habitat alaminya.

Penyu memiliki kemampuan navigasi yang luar biasa. Setelah menetas dan tumbuh di laut, sebagian penyu diketahui memiliki kecenderungan kembali ke kawasan tempat mereka berasal untuk berkembang biak.

Karena itu, keberadaan kawasan pantai yang aman menjadi bagian penting dalam menjaga siklus hidup penyu.

Pengembangan Living Laboratory di Kili-Kili diharapkan dapat mempertemukan tiga kepentingan sekaligus: perlindungan alam, pengembangan ilmu pengetahuan dan pemberdayaan masyarakat.

Dengan pola tersebut, konservasi tidak hanya menjadi aktivitas pelepasan satwa atau perlindungan pantai, tetapi juga menghasilkan pengetahuan yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan pengelolaan lingkungan.

Bagi Trenggalek, langkah ini sekaligus memperkuat posisi kawasan Kili-Kili sebagai ruang belajar terbuka mengenai ekosistem pesisir. Perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat dan dunia usaha dapat mengambil peran masing-masing dalam menjaga keberlanjutan kawasan.

Peresmian Living Laboratory akhirnya bukan menjadi awal dari kegiatan konservasi di Kili-Kili, melainkan penanda baru bagi kerja yang telah berlangsung lama. Tantangannya kini adalah memastikan laboratorium alam tersebut benar-benar terus hidup melalui penelitian, konservasi dan keterlibatan masyarakat dari waktu ke waktu.

(gUn)

Berita Terkait

Mas Ipin Tinjau Jalan Krandekan-Gandusari, Perbaikan 5,5 Kilometer Segera Dimulai
Mas Ipin Cek Langsung Data Warga Miskin, Temukan Masalah yang Tak Terlihat di Atas Kertas
Wabup Syah: Perubahan APBD 2026 Perkuat Ruang Pembangunan dan Pelayanan Masyarakat Trenggalek
Hari Jadi ke-832 Meriah, Mas Ipin Ingatkan Masih Banyak Pekerjaan untuk Trenggalek
DPRD Trenggalek Siapkan Skema Dana Cadangan Pilkada, Usulan Rp40 Miliar Dicicil Dua Tahun
Bupati Arifin Tutup Hari Jadi Trenggalek ke-832 dengan Wayang Kulit dan Undian Motor
Bupati Arifin Pimpin Kirab Pusaka Hari Jadi Trenggalek ke-832, Petani Bawa Hasil Bumi
Jelang Hari Jadi ke-832, Bupati Trenggalek Ziarah ke Makam Para Pendahulu

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 00:19 WIB

Mas Ipin Tinjau Jalan Krandekan-Gandusari, Perbaikan 5,5 Kilometer Segera Dimulai

Rabu, 9 September 2026 - 23:58 WIB

Mas Ipin Cek Langsung Data Warga Miskin, Temukan Masalah yang Tak Terlihat di Atas Kertas

Selasa, 8 September 2026 - 15:54 WIB

Wabup Syah: Perubahan APBD 2026 Perkuat Ruang Pembangunan dan Pelayanan Masyarakat Trenggalek

Senin, 7 September 2026 - 18:44 WIB

Hari Jadi ke-832 Meriah, Mas Ipin Ingatkan Masih Banyak Pekerjaan untuk Trenggalek

Kamis, 3 September 2026 - 19:09 WIB

DPRD Trenggalek Siapkan Skema Dana Cadangan Pilkada, Usulan Rp40 Miliar Dicicil Dua Tahun

Kamis, 3 September 2026 - 14:41 WIB

Bupati Arifin Tutup Hari Jadi Trenggalek ke-832 dengan Wayang Kulit dan Undian Motor

Senin, 31 Agustus 2026 - 17:39 WIB

Bupati Arifin Pimpin Kirab Pusaka Hari Jadi Trenggalek ke-832, Petani Bawa Hasil Bumi

Minggu, 30 Agustus 2026 - 20:07 WIB

Jelang Hari Jadi ke-832, Bupati Trenggalek Ziarah ke Makam Para Pendahulu

Berita Terbaru