Trenggalek, Lumineerdaily.com – Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengajak masyarakat menjaga alam sebagai bagian dari peringatan Hari Jadi ke-832 Trenggalek. Pesan itu disampaikan saat mengikuti tradisi Metri Bumi di sumber air Kedungdowo, Dusun Bendogolor, Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, Jumat (21/8/2026).
Bagi Arifin, Metri Bumi bukan sekadar tradisi tahunan. Kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan dan perekonomian masyarakat Trenggalek masih sangat bergantung pada kondisi alam.
“Perlu diingat bahwa masyarakat bisa hidup karena buminya masih memberikan kehidupan,” kata Arifin.
Ia mencontohkan sektor-sektor yang menjadi penopang ekonomi daerah. Pertanian membutuhkan sawah dan ketersediaan air, peternakan bergantung pada sumber daya alam, sedangkan perikanan tidak dapat dipisahkan dari kondisi laut.
Rantai tersebut, menurut Arifin, juga berkaitan dengan keberadaan kawasan hutan dan karst sebagai bagian dari ekosistem yang menjaga sumber air.
“Tidak ada ikan kalau tidak ada laut yang masih terjaga. Kemudian tidak ada sawah yang baik kalau tidak ada air. Tidak ada air kalau tidak ada kawasan karst atau kawasan hutan yang terjaga,” ujarnya.
Ketergantungan itu tidak berhenti pada sektor primer. Hasil pertanian, peternakan dan perikanan menjadi bahan bagi industri pengolahan. Di sisi lain, sektor pariwisata Trenggalek juga banyak mengandalkan bentang alam sebagai daya tarik utama.
Arifin menilai kerusakan lingkungan pada akhirnya akan berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat.
“Pariwisata kita semua berbasis alam. Kalau alamnya rusak maka Trenggalek juga akan rusak. Maka pendapatan Trenggalek, ekonomi Trenggalek juga akan rusak di situ,” katanya.
Karena itu, ia melihat peringatan hari jadi daerah tidak cukup hanya dirayakan melalui kegiatan seremonial. Menjaga hubungan masyarakat dengan alam menjadi bagian penting dari makna perayaan tersebut.
“Rakyat Trenggalek hidup tergantung dengan alam. Maka kalau kita ingin merayakan hari jadi kita, ya yang kita rayakan adalah kebersamaan kita bersama alam,” tutur Arifin.

Rektor Universitas Brawijaya Prof. Widodo yang hadir dalam kegiatan tersebut menilai Metri Bumi memiliki pesan ekologis yang kuat. Tradisi semacam itu dapat menjadi pengingat bagi masyarakat mengenai ketergantungan manusia terhadap kelestarian lingkungan.
Menurut Widodo, program pelestarian alam akan lebih kuat apabila berjalan bersama budaya yang hidup di tengah masyarakat. Nilai menjaga lingkungan tidak berhenti sebagai kebijakan, tetapi menjadi bagian dari perilaku sehari-hari.
Ia melihat tradisi Metri Bumi menunjukkan adanya kesadaran masyarakat Trenggalek untuk menjaga alam di lingkungan mereka.
“Budaya ini menunjukkan bahwa mindset dan juga perilaku yang menyebabkan sebuah tradisi dan budaya ini sudah melekat di tengah masyarakat Trenggalek,” kata Widodo.
Bagi Trenggalek, pesan tersebut menjadi semakin penting karena sebagian besar kegiatan ekonomi masyarakat masih bertumpu pada sumber daya alam. Menjaga hutan, sumber air, laut dan kawasan alam lainnya bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga menyangkut keberlanjutan penghidupan masyarakat.
Metri Bumi di Kedungdowo pun ditempatkan sebagai bagian dari upaya menghubungkan tradisi, kesadaran lingkungan dan masa depan ekonomi daerah.
(gUn)













