TULUNGAGUNG, lumineerdaily.com – Puluhan siswa SMKN 1 Tulungagung mendapatkan pengalaman langsung menelusuri rantai distribusi pangan saat mengunjungi gudang milik Perum Bulog di Ngujang, Jumat (24/4/2026).
Kegiatan eduwisata ini tidak sekadar kunjungan biasa. Para siswa diajak memahami secara langsung bagaimana beras hasil panen petani diserap, disimpan, hingga didistribusikan sebagai bagian dari cadangan pangan pemerintah.
Pemimpin Cabang Bulog Tulungagung, Yonas Haryadi Kurniawan, menjelaskan bahwa keterbukaan akses gudang menjadi bagian dari upaya meningkatkan literasi pangan, khususnya bagi generasi muda.
Menurutnya, selama ini masyarakat cenderung hanya melihat proses panen di tingkat petani tanpa mengetahui ke mana alur distribusi beras setelah itu. Melalui kunjungan ini, siswa dapat melihat langsung bahwa hasil panen tersebut tidak hanya beredar di pasar, tetapi juga disimpan sebagai cadangan strategis negara.
Dalam pemaparan di lokasi, Bulog mencatat lonjakan cadangan beras yang cukup signifikan di wilayah kerja Tulungagung, Trenggalek, Kota Blitar, dan Kabupaten Blitar.
Jika pada periode yang sama tahun 2025 stok berada di angka sekitar 29 ribu ton, maka pada April 2026 jumlahnya meningkat menjadi sekitar 60 ribu ton.
Kondisi ini menunjukkan penguatan kapasitas penyimpanan sekaligus kesiapan dalam menjaga stabilitas pasokan pangan di wilayah tersebut.
Bagi para siswa, kunjungan ini memberikan pemahaman yang lebih konkret dibandingkan teori di ruang kelas. Mereka dapat melihat langsung standar kualitas beras, sistem penyimpanan di gudang, hingga mekanisme distribusi kepada masyarakat.
Salah satu siswa, Shilffa Anindya Helga, mengaku kunjungan ini membuka wawasan baru terkait sistem pangan nasional. Ia menyebut pengalaman melihat langsung kondisi gudang dan kualitas beras menjadi pengetahuan yang sebelumnya tidak didapatkan secara detail di sekolah.
Program eduwisata seperti ini dinilai penting untuk membangun kesadaran generasi muda terhadap pentingnya ketahanan pangan. Selain memperkenalkan sistem logistik, kegiatan ini juga menumbuhkan pemahaman bahwa pengelolaan pangan melibatkan proses panjang dan terstruktur.
Langkah membuka akses gudang kepada pelajar juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan transparansi pengelolaan cadangan beras. Dengan melihat langsung kondisi di lapangan, diharapkan tumbuh pemahaman yang lebih utuh mengenai peran Bulog dalam menjaga stabilitas pangan.
Kunjungan siswa ke gudang Bulog di Tulungagung tidak hanya menjadi sarana edukasi, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sistem pangan nasional bekerja secara nyata. Dengan stok yang meningkat dan keterlibatan generasi muda, upaya menjaga ketahanan pangan di tingkat daerah diharapkan semakin kuat dan berkelanjutan.
(gun)







